organisasi muda

Generasi Muda Indonesia Berprestasi Tanpa Narkoba

Evenciiomargonda.co.id, Depok – Generasi muda Indonesia berprestasi tanpa Narkoba adalah sangat mungkin. Meskipun kini Indonesia darurat Narkoba, namun masih banyak generasi generasi muda di Indonesia yang mampu berprestasi tanpa Narkoba.

Indonesia sendiri jadi target kejahatan transnasional Narkoba, yaitu narkotika, psikotropika dan prekursor atau bahan bahan pembuat Narkoba. Hampir dua dekade belakangan ini, penyelundupan narkoba, baik di dalam negeri maupun yang masuk dari luar negeri, semakin mengkhawatirkan. Khususnya sejak 1990-an, narkoba jenis psikotropika seperti sabu-sabu dan ekstasi membanjiri pasar gelap di sejumlah wilayah kota besar di Indonesia.

Pada 2012, mengutip World Drug Reports yang dikeluarkan United Nation Office on Drugs and Crime, penggunaan narkoba jenis kokain mengalami tren peningkatan di Asia Tenggara. Hal ini dipengaruhi oleh ketersediaan dan permintaan secara keseluruhan terhadap kokain, yang kemudian menciptakan pasar-pasar baru di kawasan ini.

Catatan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai seperti yang dikutip dari detikX juga menunjukkan meningkatnya penyelundupan Narkoba ke Indonesia. Dimana pada 2012 saja, Bea-Cukai telah melakukan penindakan terhadap 132 kasus penyelundupan seberat 546,54 kilogram narkotika dan psikotropika. Selanjutnya pada 2013 ada 215 kasus dengan tangkapan 517,50 kilogram. Pada 2014, ada 212 kasus dengan tangkapan 316 kilogram, sedangkan pada 2015 ada 172 kasus dengan jumlah barang bukti 599,75 kilogram.

Sedangkan menurut Bank Indonesia (BI) yang dikutip dari Kompas, ada empat tantangan utama yang harus disikapi generasi muda bangsa Indonesia. Hal ini terkait dengan perubahan zaman yang terjadi sangat cepat. Tantangan pertama adalah menguatnya peran negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sebagai episentrum aktivitas dan dinamika dunia. Menurut Kepala Departemen Komunikasi BI Agusman, hal ini sejalan masih tingginya laju pertumbuhan ekonomi negara berkembang. Dengan laju pertumbuhan ekonomi yang terjaga, kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) negara berkembang seperti Indonesia diproyeksikan bakal mencapai 50 persen dari porsi PDB dunia pada 2050.

Tantangan kedua adalah hadirnya teknologi yang semakin mendominasi kehidupan, baik dari sisi skala, cakupan serta dampak yang ditimbulkannya. Teknologi di satu sisi dipandang dapat mendorong layanan yang lebih transparan dan efisien di mata konsumen, namun di saat yang sama membawa risiko disrupsi. Tantangan ketiga, perubahan komposisi demografi penduduk dunia yang kemudian berimbas pada produktivitas maupun dinamika dunia. Contoh ekstremnya, di 2050 jumlah penduduk di negara Austria hanya sebanyak 8 juta jiwa, yang memicu pelemahan produktivitas sekaligus perilaku konsumsi.

Tantangan keempat, fenomena kehadiran generasi milenial, yaitu generasi muda yang senantiasa penuh dengan ide-ide segar, namun di saat yang sama juga haus akan pengakuan. Generasi milenial memiliki selera, nilai-nilai, serta gelora yang berbeda dari generasi sebelumnya sehingga dibutuhkan pendekatan yang berbeda dalam penanganannya.

Terlepas dari itu, Indonesia butuh generasi generasi muda penerus bangsa yang mampu membawa nama Indonesia semakin baik dan mengharumkannya hingga ke kancah internasional. Adapun banyak juga generasi muda Indonesia yang membuat bangga bangsa Indonesia.

Adapaun di antaranya seperti para olahragawan dan olahragawati Indonesia yang berprestasi di ajang internasional, sebut saja seperti duo Lilyana Natsir dan Tontowi Ahmad. Pebulu tangkis ganda campuran kebanggaan Indonesia ini telah beberapa kali mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Berbagai gelar telah berhasil disabet oleh Lilyana dan Tontowi tiga tahun berturut – turut, di antaranya champion kompetisi All England di tahun 2012, 2013, 2014.

Juga ada Joey Alexander Sila, sang pianis cilik yang prestasinya dikenal di kancah internasional. Meskipun masih berusia 10 tahun, bocah cilik ini sudah mahir memainkan tuts piano dengan indah hingga menarik perhatian mata dunia. Prestasi yang berhasil dia dapatkan juga tak tanggung-tanggung, dia berhasil meraih “Grand Prix 1st International Festival – Contest of Jazz Improvisation Skill” yang diselenggarakan pada 5-8 Juni 2013 di Odessa, Ukraina. Pada festival musik Jazz itu, Joey adalah peserta termuda, dan dia berhasil mengalahkan 43 peserta dari berbagai dunia.

Juga ada Rio Haryanto yang merupakan seorang Rider Indonesia pertama yang manggung di kancah balapan jet darat F1. Meskipun hanya main setengah musim, Rio sedang dilirik oleh tim sauber untuk menemani Marcus Ericsson untuk F1. Dan masih banyak lagi anak muda anak muda berprestasi dari Indonesia yang mengharumkan nama tanah air ini di mata dunia.

SINOPSIS: Generasi muda Indonesia berprestasi tanpa narkoba tentu jadi hal yang sangat mungkin. Meskipun ini menjadi salah satu tantangan yang dihadapi generasi muda Indonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *